Tilikan Astronomi Menyatakan Apokaliptika Tidak Akan Terjadi pada Tahun 2012

“Peredaran Bumi mengelilingi Matahari akan mempertahankan momen inersianya, karena distribusi massa dalam diri planet Bumi tidak berubah. Begitu pula gaya tarik untuk mendekatkan poros putar Bumi ke arah poros edarnya (yakni kutub ekliptika) akan selalu ditandingi oleh inersia yang ditimbulkan oleh vektor kecepatan putar pada porosnya dan vektor kecepatan edar Bumi mengelilingi Matahari. Ini adalah konsekuensi hukum kekekalan inersia dan momen dari Ilmu Mekanika benda langit yang tidak rapuh oleh perjalanan singkat dalam ruang-waktu. Jadi, sebaiknya kita sisihkan konotasi “kiamat” itu dan mari kita mengisi kalender dengan agenda kerja yang dapat membantu menyelamatkan Bumi serta umat manusianya.”

Tidak ubahnya tanggal

Kalau boleh dikatakan maka pemelintiran itu berlangsung nyaris sempurna sehingga peristiwa alam yang berulang kembali menurut kodratinya. 1 Januari sebagai tanda suatu siklus baru. Kedua, gerak tahunan Bumi mengelilingi Matahari, dan membawa Matahari pada bulan Desember berada pada simpul musim dingin, di Rasi Bintang Sagittarius. Dan ketiga, gerakan dan langkah besar Matahari, beserta planet-planetnya, mengelilingi Pusat Bima Sakti, yang berhimpitan arah, tetapi terpaut ruang jarak. Dalam ilmu Astronomi, peristiwa itu sebenarnya merupakan kejadian berulang kembali dengan ketepatan rutinitas seperti jalannya detik sebuah jam.

Letak Matahari

Bulan di langit adalah patokan alami untuk menetapkan awal suatu periode karena mudah dilihat oleh kelompok warga masyarakat. Sayangnya, kedua gerak itu tidak menghasilkan selang waktu dalam satuan bilangan utuh, bilangan integer. Bumi memerlukan waktu 365,244 … hari untuk sekali mengelilingi Matahari, menduduki tempat semula dalam ruang, relatif terhadap bintang. Pengaturan tahun Kabisat diadakan agar jumlah hari setiap 4 tahun tidak berselisih dengan keadaan lapangan.

Jadi, menurut definisi, 1 tahun bagi suku bangsa Maya hanya terdiri atas 360 hari. Ini berarti masih tersisa 5,2 … hari untuk melengkapi 1 tahun tropis penuh. Yang disebut “1 tahun tropis” ialah panjang kalawaktu yang dibutuhkan oleh Bumi mengambil tempat dalam bidang edarnya (mengelilingi Matahari) sampai ketempat yang sama.

Kedudukan Matahari pada tanggal 21-12-2012 sebenarnya bukan peristiwa unik, karena setiap tahun posisi seperti itu dialami oleh Tatasurya. Matahari berada pada titik musim dingin bersamaan dengan dugaan berada pada bidang simetri Galaksi. Keberadaan seperti itu dianggap rentan karena segaris dengan Pusat Galaksi. Dikiranya, Matahari akan menerima gangguan berupa gaya pasang-surut besar yang dapat merobek-robek keutuhan badan-gas Matahari. Kenyataannya ialah pada tanggal 21-12-2012 nanti Matahari (dan planet-planetnya) tidak berada di bidang Galaksi.

Andaikata pun Matahari dan planetnya (seterusnya disebut Tatasurya) berada tepat di bidang Galaksi, gangguan gaya pasang-surut oleh Pusat Galaksi pada Tatasurya hanya minimal, senilai dampak tumbukan nyamuk pada seseorang di malam hari. Lagipula dalam peredarannya mengelilingi Galaksi, yang memakan waktu 250 juta tahun, Tatasurya beroksilasi (mengikuti gerak ke atas dan ke bawah, dari utara ke selatan Galaksi dan sebaliknya) dalam tempo 30 sampai 33 juta tahun. Jadi, sekali Matahari berkeliling mengedari Pusat Galaksi, Tatasurya beroksilasi 8 kali. Dilihat dari luar Galaksi, gerak itu merupakan tiruan gerak karosel di suatu pasar malam, yakni bidang tempat kuda-kudaan terpancang beredar mengikuti irama musik mengelilingi tiang tengahnya, bersamaan dengan kuda-kudaan itu mengalun naik-turun, membuat gembira penunggangnya.

Dengan pelukisan lain, selama beredar mengelilingi Pusat Galaksi, Tatasurya kita 16 kali melintas bidang Galaksi dalam gerakan berirama dari selatan ke utara, dan sebaliknya. Tatasurya menyilang bidang Galaksi terakhir pada 3 juta tahun yang lalu. Sekarang (atau tanggal 21-12-2012 nanti), Tatasurya berada pada jarak 100 tahun cahaya dari bidang Galaksi dan sedang bergerak ke utara meninggalkan bidang tersebut dengan kecepatan tidak kurang dari 1.000 kilometer tiap jam.Setelah mencapai titik terjauh dari bidang Galaksi, Tatasurya tertarik kembali ke arah bidang tersebut dan akan menyilangnya lagi 10 juta tahun dari sekarang, jelas tidak pada tanggal 21-12-2012. Oleh sebab itu praduga bahwa Tatasurya, tentu saja bersama semua planetnya, akan menderita gangguan gaya pasang-surut oleh Pusat Galaksi merupakan dugaan yang jauh panggang dari apinya.

Elemen destruktif yang bisa mengharu-biru Tatasurya kita ini bukan datang dari luar sistem, tetapi justru bisa datang dari Matahari kita sendiri yang mengikut irama evolusi kehidupannya. Ketika Matahari beranjak memasuki fase raksasa merah 2 sampai 3 milyar tahun yang akan datang, maka badannya mengembung sehingga permukaan yang panas menjilat lintasan Venus. Saat itu, menurut teori evolusi terbaik, setelah ditera oleh kehidupan milyaran bintang dan galaksi aneka struktur, suhu permukaan Bumi akan naik menuju ke titik leleh timbal. Itupun tidak sesaat terjadi, tetapi secara lamban berangsur, sambil selalu mengatur keseimbangan dinamika angkasa dan badannya. Barangkali jauh sebelum peristiwa tersebut terjadi, dengan sedih dicatat bahwa kemanusiaan sudah lama menjadi sejarah.

Ancaman internal lain bisa datang dari dalam Bumi sendiri. Beberapaledakan gunung berapi di Indonesia berpotensi merusak sistem. Di abad modern ini, gunung Tambora pada tahun 1815 dan gunung Krakatau pada tahun 1883, masing-masing melemparkan 144 kilometer kubik dan 106 kilometer kubik debu dan partikulat lainnya ke angkasa Bumi, yang kemudian ikut mengedari Bumi. Aerosol, debu dan kerikil lainnya membaur ke dalam lapisan angkasa menghalangi cahaya Matahari memasuki permukaan Bumi. Akibatnya ialah merosotnya jatah energi panas Matahari di permukaan Bumi, akibat terserap oleh debu yang mengambang itu dan, pada gilirannya, menurunkan suhu permukaan Bumi. Beberapa negara bahkan mengalami tahun tanpa musim panas. Itu adalah salah satu wujud perubahan cuaca yang mengganggu keseimbangan hidup. Gangguan keseimbangan musim bersifat sementara, tidak permanen. Berbeda dengan letusan supervolkano Toba, 74.000 tahun silam, menghasilkan dampak yang lebih dahsyat. Namun begitu belum diketahui apakah gangguan terhadap keragaman spesies dan genetika terjadi bersamaan sebagai konsekuensi letusan besar Toba dalam zaman pra-sejarah itu. Daya ledak Toba sebesar 1 giga-ton, dengan simulasi komputer, di aras dapat menimbulkan gangguan serius pada perimbangan sistem ekologi dan masyarakat kemanusiaan masa Paleolithik.

Celah Gelap Pusat Galaksi

Aspek spiritual lain yang membuat tanggal 21-12-2012 menjadi primadona berita ialah pra-anggapan bahwa pada saat tersebut Tatasurya berada didepan “celah gelap” (dark rift) misterius yang menghiasi arah Pusat Galaksi.

Celah gelap itu merupakan rajutan kompleks menimpali anyaman permadani langit bertahtakan benda terang pembentuk rona Pusat Galaksi. Keberadaan Tatasurya di depan wilayah tersebut menjadi daya tarik sendiri bagi peramal katastropik karena, seperti pengetahuan bangsa-bangsa zaman dahulu, celah hitam gelap itu dieja sebagai mulut gua yang menarik benda langit ke arah lorong kerusakan.

Bagaimanakah tatanan planet-planet nanti pada tanggal 21-12-2012 itu?

Keadaannya jauh daripada tusuk sate ideal. Pada waktu itu planet tersebar dalam juring geosentrik tidak kurang dari 170 derajat, seperti tatanan titik-titik dalam bidang kipas Jepang yang ¾ terbuka. Bahkan dua di antara planet-planet itu menduduki sisi yang berseberangan dengan yang lain. Keadaan seperti itu tidak dapat diharapkan menimbulkan pasang-surut yang efektif, baik pada Bumi apalagi terhadap Matahari, oleh karena itu tidak efektif menimbulkan kerusakan katastropik. Jadi, kesimpulan atau anggapan bahwa pada tanggal 21-12-2012 merupakan hari bencana karena “tusuk sate planet” tidak relevan terhadap dan dengan keadaan.

“Peredaran Bumi mengelilingi Matahari, yang dapat diibaratkan dengan putaran gasing mainan anak-anak, akan mempertahankan momen inersianya karena distribusi massa dalam diri planet Bumi tidak berubah. Begitu pula gaya tarik untuk mendekatkan poros putar Bumi ke arah poros edarnya (yakni kutub ekliptika) akan selalu ditandingi oleh inersia yang ditimbulkan oleh vektor kecepatan putar pada porosnya dan vektor kecepatan edar Bumi mengelilingi Matahari. Ini merupakan konsekuensi hukum kekekalan inersia dan momen dari Ilmu Mekanika benda langit yang tak rapuh oleh perjalanan singkat dalam ruang-waktu.”

Pembicaraan kita ini disulut oleh berakirnya siklus suatu kalender suku bangsa Maya. Penulis yakin bahwa bukan tujuan suku bangsa Maya membuat kalender untuk menyajikan Hari Kiamat. Tetapi, seperti halnya kalender lain, tatanan penanggalan itu adalah sebuah “odometer” dan juga pal kilometer pencatat kejadian. Jadi, sebaiknya kita sisihkan konotasi “kiamat” itu dan mari kita mengisi kalender dengan agenda kerja yang dapat membantu menyelamatkan Bumi serta manusianya. Apapun juga tetapi harus terpumpun kepada penggunaan metoda ilmiah dan teknologi untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan.

.::Prof. Dr. Bambang Hidayat adalah anggota AIPI (Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia), mantan Guru Besar Astronomi di ITB (Institut Teknologi Bandung), 1976-2004, dan mantan Direktur Observatorium Bosscha di Lembang, Bandung, 1968-1999::.

Welcome back January 2012..atas ijin-Mu ya Rabb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: