Mau Dibawa ke Mana Arsitektur Bali?

Seperti diketahui, mainstream pembangunan wilayah Bali yang menjadi subjek pembangunan adalah masyarakat berikut kebudayaan Bali itu sendiri. Sektor kebudayaan yang menjadi nafas dan vitalitas kehidupan masyarakat diupayakan terus lestari hingga munculnya komitmen ”Ajeg Bali” yang tak lain bermakna agar terus lestarinya lingkungan hidup dan kebudayaan Bali. Perkembangan arsitektur bangunan yang merupakan elemen dari kebudayaan Bali memang digadang-gadang agar terus menampakkan wajah dan identitas Bali. Jati diri arsitektur Bali bukan saja diperlukan sebagai idealisme lingkungan binaan dan kebanggaan semata, namun juga keharusan dari sisi politis dan kepariwisataan yang terkait dengan strategi pembangunan ekonomi Bali. Dan memang daerah ini mempunyai arsitektur tradisional yang mengakar secara ekologis, sosiologis dan budaya.

Menyimak rancang bangun arsitektur, sesungguhnya di Bali ada ragam arsitektur yang hadir dan tumbuh menjadi khazanah arsitektur di Bali. Literatur sejarah perkembangan arsitektur di Bali menyebut, menurut Putu Rumawan Salain (1999), secara kronologis ada (1) Zaman Prasejarah, (2) Zaman Bali Aga abad I hingga IX, (3) Zaman Bali Kuno abad IX hingga XIV, (4) Bali Majapahit abad XIV hingga XIX, (5) Masa kolonial tahun 1849 hingga 1945, (6) masa kemerdekaan tahun 1945 hingga sekarang.

Masa sebelumnya hingga Bali Majapahit (abad XV – XIX) dianggap masa tumbuh dan berkembangnya arsitektur tradisional Bali yang dilandasi oleh lontar Hasta Kosala-Kosali dan Hasta Bumi. Arsitektur tradisional sekalipun sama sumber dan landasan filosofinya tetapi sesungguhnya plural dalam perwujudan dan keberadaannya, variatif dalam ragam wujud dan tata ruangnya. Untuk daerah dataran ada variasi perbedaan dengan daerah pegunungan, Bali Selatan berbeda dengan Bali bagian Utara.

Hingga masa kolonial (Abad 20) terjadi perjumpaan antara arsitektur lokal dan tradisional dengan arsitektur Barat sebagai arsitektur “pendatang”, menjadikan khazanah arsitektur di Bali lebih kaya ragam dan gaya. Khazanah arsitektur terus berkembang menuju masa kemerdekaan (1945) hingga masa sekarang. Masa kini karena pengaruh globalisasi yang membawa dampak perkembangan teknologi, pergeseran cara berpikir yang lebih rasional, perubahan gaya hidup dan ekonomi, muncul juga gaya arsitektur pendatang yang lain yang dikenal sebagai gaya universal seperti gaya mediteran, art deco, kubisme, minimalis. Paralel dengan itu hadir juga di Bali gaya arsitektur nusantara seperti arsitektur Jawa, Lombok, Minang dan sebagainya.

Ragam yang juga menghiasi wajah arsitektur di Bali adalah penyesuaian fungsi, bentuk dan rupa arsitektur vemacular dan tradisional karena kebutuhan dan tuntutan perkembangan zaman menjadi gaya arsitektur masa kini yang lebih pragmatis. Juga berkembang gaya arsitektur hasil interpretasi atas prinsip (kaidah) perancangan arsitektur tradisional terhadap fungsi bangunan komersial dan perkantoran. Kaidah fungsi ini di dalam arsitektur tradisional Bali tidak termuat dengan jelas.

Pada perkembangan berikutnya, ragam gaya arsitektur tersebut ada yang bersinergi, bercampur dan menambah ragam rupa arsitektur seperti yang disebut gaya ekletik, hibrida dan sinkretik.

Paparan tersebut adalah realitas arsitektur di Bali, atau yang hadir di Bali. Lantas apakah yang disebut arsitektur Bali khususnya dalam konteks masa kini dan masa esok? Apakah arsitektur Bali masa kini adalah sesuatu yang sudah jadi dan dengan difinisi yang tertutup sehingga menjadi statis dan selesai? Jawabannya, tentunya arsitektur Bali ibarat arsitektur Indonesia, yang terus mencari bentuk dan kesejatian diri, terus mentransformasi menyesuai dengan peradaban dan budaya masa kini untuk menuju masa esok.

Bila arsitektur Indonesia akar dan sumber kearsitekturannya adalah keragaman arsitektur tradisi dan vernacular dari seluruh nusantara, maka arsitektur Bali masa kini, harapannya, merujuk pada arsitektur tradisional Bali sebagai sumber dan akar kearsitekturan. Atau arsitektur tradisional dengan reinterpretasi dan mentransformasi hingga menjadi relevan dan kontekstual dengan ruang, waktu dan situasi masa kini untuk menuju masa esok. Untuk masa kini adalah bagaimana transformasinya dalam menjawab dan mengakomodasi pergeseran dan perubahan budaya dan lingkungan hidup sebagai habitatnya, termasuk dengan konteks pergeseran dan perkembangan ragam gaya arsitektur “pendatang” di Bali. Dan apakah transformasi menuju masa kini dan esok membuahkan tradisi Baru? Waktulah yang akan menjawabnya.

Ciri Pokok

Apapun perwujudan arsitektur Bali masa kini yang terus berproses menunjukkan eksistensinya, tetap ada ciri pokok yang tidak boleh hilang yang bersumber dari aspek religi dan kultur masyarakat Bali yaitu pertama, sebagai arsitektur yang harmoni. Arsitektur harmoni adalah karakter dan inheren sebagai watak dasar arsitektur Bali. Harmoni dengan lingkungan alam, antar-manusia, dengan Tuhan yang bersumber dari filosofi Tri Hita Karana yang terus direinterpretasi agar relevan dengan perkembangan waktu.

Ciri kedua, adanya ruang bersama (komunal) dalam kebersamaan rasa ruang. Ini konsep dasar yang paling mendasar pemahaman tentang ruang (spasial) dalam arsitektur tradisional Bali, yang bersumber dari filosofi Tri Angga (vertical), Tri Mandala (horizontal) dan Tri Hita Karana (balance). Untuk arsitektur Bali masa kini, konsep ini tetap inheren dengan tentunya direaktualisasi dan reinterpretasi dengan pemahaman yang kontekstual dan relevan.

Ciri ketiga, adanya kesinambungan sejarah — perkembangan arsitektur — di Bali, agar arsitektur Bali tidak terlepas dari ekologi, kultur, sejarah, arsitektur tradisional, dan dengan problematik masyarakatnya. Ciri keempat, pluralitas wujud (bentuk dan rupa) arsitektur. Walau sama dalam sumber filosofi namun implementasinya mesti menyesuai dan kontekstual dengan tempat (desa), waktu (kala) dan situasi kondisi (patra), seperti yang ditunjukkan dalam realitas empiris arsitektur tradisionalnya di berbagai daerah di seluruh Bali.

Namun bila ditengok fakta dan realita masa kini arsitektur yang terbangun di seluruh wilayah Bali nampak jelas tidak menuju arah arsitektur Bali yang diharapkan yang potensial menuju pembentukan jati diri dan eksistensinya. Arsitektur yang tampil menampakkan beberapa wajah, namun yang dominan adalah wajah konservatif, muncul juga wajah modern universal yang ekstrim. Kedua tipologi disain tersebut sama-sama terlepas dari konteksnya. Yang pertama adalah wajah konservatif yang terkondisikan oleh belenggu pemahaman arsitektur tradisional yang kurang transformatif. Tipologi disainnya dalam konteks waktu (kala) kekinian kurang, bahkan tidak, adaptif terhadap pergeseran dan perubahan menuju modernisasi. Makna dan rupa arsitekturnya tetap konservatif di tengah pergeseran gaya hidup masyarakat Bali yang lebih modern.

Dalam konteks tempat (desa), gaya arsitektur yang tampil nyaris seragam padahal kondisi geografis dan akar arsitektur vernacularnya di tiap daerah di Bali berbeda-beda. Dalam konteks situasi kondisi (patra) dengan berkembangnya bahan bangunan yang teknologis dan modern pemanfaatannya terkendala oleh belenggu pemikiran bahwa dengan perubahan bentuk bangunan lebih teknologis dan modern rupa arsitektur tradisional menjadi hilang. Hampir semua fungsi bangunan menampakkan tipologi arsitektur konservatif ini.

Di pihak lain, tampak wajah modern universal dan kontemporer yang ekstrem hingga terlepas dari konteks arsitektur tradisional dan vernaculantas Bali. Tipologi disain ini beranggapan, dengan menampilkan gaya arsitektur modern yang universal dan memarginalkan rupa arsitektur lokal, dianggapnya menjadi lebih modern. Tipologi ini jelas kebablasan dan ekstrem dalam memodernkan arsitektur tradisional dan keliru dalam menginterpretasi arsitektur Bali modern. Sebagian disain bangunan villa, perkantoran, ruko adalah contoh tipologi ini. Walau ada juga yang menampakkan penjelajahan disain yang inovatif menghadirkan arsitektur hibrida dan sinkretik yang nampak modern tetapi kontekstual dengan Bali. Atau arsitektur dengan rupa campuran, rupa lokal dan universal yang nampak harmoni dan “east meet west”. Sebagian arsitektur hotel resor, villa, dan rumah tinggal adalah contoh disain inovatif ini.

Menyimak realitas arsitektur tersebut berikut arah perkembangannya, tentunya tidak bisa terlepas dari masyarakat Bali sebagai bagian kesejatian diri arsitekturnya, dan komunitas pelaku arsitektur Bali sebagai elemen yang ikut berpengaruh, menentukan dan bertanggung jawab. Terhadap arsitektur Bali masa kini yang kurang tranformatif dan berpotensi menuju arsitektur Bali yang stagnan, ada baiknya disimak para pelaku arsitekturnya yang secara determinan menentukan dan bertanggungjawab yaitu Sekolah Arsitektur (Perguruan Tinggi), Pemerintah Daerah, organisasi profesi dan arsitek.

Sumber :m. agus agam –Bali Post

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: