“Love and Peace from Bali to the World”

Dalam setiap konflik terdapat kontradiksi, sesuatu yang menghalangi sesuatu yang lain. Situasi klasik ini disebut sebagai formasi konflik elementer atau atom-atom konflik.  (Johan Galtung)

“Ketika sakit, orang baru ingat betapa berharganya sehat. Saat kekacauan terjadi akibat konflik multidimensi, orang-orang baru sadar alangkah indahnya perdamaian. Setelah bom meledak dua kali di Bali bulan Oktober 2002 dan 2005, masyarakat Bali baru merindukan ketenangan dan kedamaian.  Untuk itulah rangkaian acara gema perdamaian bertajuk ‘Love & Peace from Bali to the World’ akan dilaksanakan sepanjang bulan Oktober ini,” buka Rubag

“Apakah bom yang meledak di Legian, juga di Jimbaran dan Kuta, itu kau anggap akibat konflik? Konflik antara siapa melawan siapa? Setahuku, orang Bali yang dikenal damai dan menerima setiap orang dengan ramah dan sopan, tak pernah terlibat konflik dengan para pelaku bom itu. Apakah Amrozy, Imam Samudra dan kawan-kawannya pernah diperlakukan kasar di sini?” tukas Sumadi sengit.

“Sabar! Tidak selalu kok korban konflik adalah mereka yang terlibat dalam konflik atau aktor-aktor penyebab konflik. Tragedi bom di Bali itu bisa dianalogikan sebagai ‘kaplug celeng monotan’. Seperti orang yang berdiri di luar kandang, tiba-tiba ditabrak babi belepotan lumpur yang lari serabutan karena panik hendak ditangkap penjagal babi. Sebenarnya, konflik bersumber jauh di luar sana! Bali cuma dijadikan faktor konkomitan atau sasaran antara, sehingga terkena dampak konflik,” sela Santika berupaya menenangkan emosi kawannya.

“Baiklah, itu dampak! Dampak menyengsarakan bagi sendi kehidupan orang Bali yang sejak dulu menganggap pariwisata sebagai primadona perekonomiannya. Coba renungkan kondisi perekonomian masyarakat setelah peristiwa yang kau sebut ‘dampak’ — bukan ‘akibat’ — itu! Lalu, setelah bom, apa yang terjadi? Bom pengangguran! Bom kebangkrutan usaha!”

“Inilah akibat dari kesalahan memahami istilah dan arti kata. Jangan samakan sebab dengan akibat, jangan anggap kedua kata itu bermakna sama, sehingga sumber masalah sebagai variabel penting, terabaikan. Seperti regu pemadam kebakaran yang hanya memfokuskan semprotan airnya ke kepulan asap, sedangkan bara apinya tak tersentuh. Walhasil, kebakaran baru berhenti setelah api melalap seluruh benda yang bisa terbakar. Bali, mirip seperti bangunan yang terbakar tadi, sementara banyak pihak meributkan masalah recovery atas pariwisata Bali yang sakit dengan dana yang tidak jelas keberadaannya. Bahkan, konon, ada rombongan yang jalan-jalan ke luar negeri, misalnya ke Iran, dengan dalih promosi atau road show pariwisata menggunakan dana recovery Bali,” papar Manik.

“Mudah-mudahan promosi atau road show itu tidak hanya menambah kasus kawin kontrak seperti diisukan terjadi di beberapa tempat di Jawa Barat dan Jakarta. Aku setuju dengan pendapat kalian. Benar kata Rubag, tragedi bom Bali 2002 dan 2005 adalah dampak dari konflik internasional, yang menyebabkan daerah ini, seperti kata Sumadi, menjadi pelengkap penderita. Bali adalah faktor konkomitan untuk menunjukkan bahwa di dunia konflik sedang berkecamuk. Itu dibuktikan lewat pengakuan terdakwa pelaku pengeboman di pengadilan, bahwa mereka ingin membunuh sebanyak-banyaknya orang dari bangsa tertentu yang mereka anggap musuh. Ini artinya apa?” tanya Sutama di akhir argumentasinya.

“Bali dipilih sebagai panggung kekerasan! Dua kali dalam waktu tiga tahun daerah ini dijadikan ajang pembantaian! Risiko yang mengerikan seperti ini, sebelumnya mungkin tak pernah dibayangkan masyarakat Bali yang asyik dengan gemah ripah loh jinawi-nya pariwisata. Padahal konstelasi politik internasional berubah total sejak robohnya Uni Soviet tahun 1989, sekaligus menandai usainya Perang Dingin. Sayang, konflik baru yang oleh Samuel Huntington disebut ‘Benturan Peradaban’ mengganti konflik ideologi yang melandasi Perang Dingin, membuat umat manusia tak punya jedah untuk berinvestasi dalam menyusun surplus perdamaian. Tesis Erich Fromm, bahwa insting perang yang diwarisi manusia dari leluhurnya, nyaris benar. Sejarah manusia, mayoritas adalah kisah tentang perang,” komentar Gustra.

“Dalam sebuah artikel di Bali Post baru-baru ini ada sinyalemen yang mengkhawatirkan pergeseran atas beberapa predikat yang disandang Bali, gara-gara berdirinya sebuah pabrik minuman keras atau miras besar di Bali. Pulau Dewata, tulisnya, akan bergeser jadi Pulau Bhuta Kala, Seribu Pura jadi Seribu Kemabukan dan Pulau Sorga menjadi Pulau Neraka. Miras memang membuat orang mabuk, namun bagiku, kekuasaan, kekayaan dan sanjungan berlebihan membuat orang jadi mabuk secara mentalitas. Ini mabuk permanen dan sulit disadarkan meski kepalanya diguyur air berember-ember seperti biasa dilakukan terhadap orang yang mabuk secara badaniah. Nah, karena lama mabuk sanjungan akibat berbagai sebutan, tiba-tiba Amrozy dkk melihat celah untuk melaksanakan insting destruktif atau nekrofilianya. Tapi, sadarkah kita akibat tindakan teramat kejam itu?” tanya Suarnadi, yang biasa mengamati masalah secara sekala dan niskala.

“Boro-boro sadar, malah ada yang seperti menepuk dada ketika Bali dinobatkan oleh sebuah majalah terbitan luar negeri, sebagai ‘The Best Island in the World’ dan tiga hotel yang berlokasi di pulau ini diberikan award sebagai bagian dari ‘The Best Ten Hotels of The World’. Konon, penghargaan dilakukan berdasarkan kuesioner yang disebarkan pada 23.000 orang dari 915.000 pelanggan majalah itu. Lucunya, keluhan atas PHK dan gulung tikarnya perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata terus terjadi. Lalu untuk apa ‘The Best’ kalau kenyataannya seperti itu?” papar Sumadi.

“Mudah-mudahan gema perdamaian yang dilaksanakan di Bali pada Oktober ini bisa jadi semacam Panasea yang mampu mengobati 1001 macam penyakit. Sebab, tujuan dari acara itu, menurut ketua panitianya, untuk mensosialisasikan damai pada masyarakat Bali, Indonesia dan dunia. Setiap orang paham bahwa inti dari pariwisata bukan hotel mewah atau SDM berkualitas internasional dan fasilitas serba lengkap, tapi kenyamanan, ketenangan dan kedamaian. Jadi ‘The Best’ tak akan ada gunanya bila keamanan dan kedamaian terancam,” jelas Rubag.

“Orang Bali telah menunjukkan surplus damainya, meski ketentraman daerahnya diganggu terus menerus. Upacara dan ritual keagamaan selalu digunakan untuk menjawab tantangan, hambatan, gangguan dan serangan bertubi-tubi itu. Ini semacam Wawasan Nusantara atau Wanus ala Bali yang agak beda dengan yang didapatkan di kampus. Kini yang perlu dipahami adalah wawasan internasional, karena variasi tantangan serta gangguan terus berubah dan sumbernya, seperti kata Santika, jauh di sana. Ingat teorema Johan Galtung, bahwa konflik akan terus terjadi akibat sesuatu menghalangi sesuatu yang lain,” ujar Suarnadi. (aridus)

Sumber : Bali Post — click disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: